Wednesday, January 7, 2009

Departure to Italy-1..... Part 1

Cinta di Bologna

Ada seribu gejolak tak kumengerti artinya
Niat hati ingin tetap menaruh harap pada yang begitu dinanti
Meski kutahu ia tak merasa apapun juga padaku

Seiring waktu berjalan ada satu kumbang menari-nari
Ia ingin menarik sesuatu dariku
Apa yang harus kulakukan
Apa aku akan menyambi2 semuanya?
Atau dengan tangan terbuka aku sambut dia?
Atau tetap mempertahankan ketidakjelasan hati pada pangeran
Di seberang sana?

Sekian lama waktu kian berjalan
Aku memberanikan diri bertanya kepadanya
Dan akupun mendapatkan jawaban, dia bukan milikku
Bukan untukku
Hana seberkas nama yang kini menyemangati jalan setapakku
Disana masih banyak kerikil2 usang yang belum dihaluskan dengan
baik.



Banda Aceh, September 2008.

Mmmmm, Subhanallah...
Indah nian matahari pagi ini, selalu kusambut hadirnya di pagi hari, yah..... aku kenal mentari pagi ini, dia tampak begitu ceria... dia selalu hadir untuk bumi, meski dia akan pergi lagi di malam hari.

Mana putrie???” Pamanku dari Kampung ateuk datang

Eh.... ini putrie cek,” aku mencium telapak tangannya, ia datang bersama istrinya dan sepupuku yang masih imut2..

Jam berapa berangkat? Udah siap semuanya kan? Maaf ya, cek baru aja balik dari kampung nih, jadi baru sekarang bisa datang

Ngak apa-apa kok cek, cek datang sekarang juga putrie udah alhamdulillaha banget

Btw, cek Ahmat mana?”

Ada kok di dalam kamar, lagi ngomong ama bunda

I was very excited, akhirnya paman Rauf bisa datang ikut mengantarkanku pagi ini.
Teguran keras dari paman Ahmad semalam, terus terang membuat kepergianku tidak nyaman pagi ini, aku masih terngiang-ngiang semua kata-kata beliau, termasuk tentang paman Rauf, entahlah sampai sekarang aku belum mampu mencairkan suasana hati keduanya seperti 10 tahun silam, hubungan mereka terlalu hambar untuk aku pahami.

Kamu itu sudah dua kali membuat saya kecewa, seharusnya hari ini kamu tidak perlu keluar rumah sejengkalpun, apa salahnya sih kita duduk dan berbicara semua hal tentang keberangkatan kamu esok? Kamu tahu tidak, besok kami tidak punya kendaraan buat mengantarkan kamu ke Bandara dan apa kata orang kalo itu sampai terjadi? Apa kamu sudah hubungi Rauf?Apa dia bisa datang besok?” Tiba-tiba semalam paman Ahmad memanggilku.

Sudah paman, tapi beliau masih di perjalanan malam ini, jadi belum bisa maenjanjikan apa-apa, tergantung gimana besok

Nah.... Kamu dengar sendiri itu kan? Saya fikir kamu sudah bicara sama Rauf, jadi saya tidak melakukan apapun untuk menyewakan kendaraan, apa salahnya sih kamu bicara sama saya? Kamu itu ngak pernah komunikasikan apapun selama ini!... Tolong kamu jadikan pelajaran hari ini, apapun yang terjadi sama kamu baik suah taupun senang, ceritakan dan komunikasikan di rumah. Ini rumah kamu sekarang dan kami orang tua kamu Putrie

Hiks.... Sudah bang, besok Putrie mau pergi, untuk dua tahun lagi...Jadi jangan kita marah-marah malam ini” Bunda, istrinya paman Rauf, tiba-tiba menangis! Astaghfirullah, jujur aku tak pernah menyangka hal ini akan terjadi, pagi tadi aku memang ke luar rumah untuk mengantarkan motorku ke pembelinya, dan aku juga sudah pamit ama Bunda, barang-barang juga sudah aku package semuanya.

Jadi yang ada dalam pikiranku ya semuanya sudah beres, besok tinggal pergi aja! Kalo masalah kendaraan emang tidak terlintas sama sekali. Dua minggu yang lalu, waktu aku ke Jakarta, semuanya diurus sama paman Ahmad, termasuk kendaraan ke Bandara, jadi aku fikir pasti paman Ahmad juga udah urusin untuk kali ini, tapi ternyata.........

Ya Allah, semuanya di luar dugaanku. Kenapa di saat-saat terakhir begini terjadi masalah?
Ku emang seorang gadis yang tertutup, aku bukan orang yang mudah untuk diajak terbuka oleh siapapun, aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri...
Tapi malam itu juga, nenekku datang dan semua masalah akhirnya bisa dipecahkan, namun imbalannya ya... aku menangis semalaman, menyesali semua tingkahku selama ini. Di rumah ini semua orang termasuk aku, adalah tipikal orang yang tidak banyak bicara (pendiam), kalo ditanya ya jawab, kalo ngak ada yang perlu diomongin ya semua diam. Rata-rata teman-temanku juga tidak betah kalo datang ke rumah, katanya kaku..

Aku punya dua paman sekarang, cek Ahmad dan cek Rauf, dua-duanya adik kandung ibuku, setelah kejadian tsunami 4 tahun yang lalu, aku tinggal di rumah Cek Ahmad, beliau seorang dosen di Fakultas Pertanian Unsyiah,.

Pada waktu itu, Tepatnya pada hari kamis tanggal 23 Desember 2004. Di waktu itu aku masih duduk di Semester IV, sebagai mahasiswa Jurusan Biologi FMIPA, kami di setiap akhir tahun selalu dihadapkan dengan kegiatan praktikum lapangan ke daerah-daerah. Kami masuk ke perkampungan dan hutan-hutan di sekitarnya. Ada beberapa mata kuliah seperti: Taksonomi tumbuhan, taksonomi Avertebrata, ekologi umum, ekologi tumbuhan, entomologi (serangga), dsb mengharuskan kami pergi ke lapangan dan mengambil semua sampel tanaman dan hewan-hewan kecil dengan jenis-jenis yang berbeda tiap kelompok, dan kemudian dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi serta diawetkan sebagai contoh penamaan, bahkan juga ada yang menjadikannya sebagai koleksi pribadi. Tahun ini kami akan ke pulanu Sabang, pulau yang paling cantik disini.

Ayah... Putrie harus ke lapangan lagi minggu ini, gimana yah?” Aku meminta izin kepada ayah

Kapan nak?”

Hari kamis ini yah, kalo putrie ngak pergi ntar gak ada nilai yah

Loh.... kamis ini? Ayah hari Senin kan berangkat, jadi kamu tidak mengantarkan ayah dan mama?”Ayah menunjukkan raut muka yang sedikit keberatan

Tapi insya Allah, Putrie pulang ahri Minggu yah... Jadi bisa antarkan ayah.”

Mmm, ya sudah kalo begitu, kemana praktikumnya?”

Ke Sabang yah....”

ya sudah........” Akhirnya ayah mengiyakan semuanya.

Selama kepergianku ke Sabang, aku tidak ada komunikasi sama sekali dengan keluargaku, karena semua barang-barang seperti handphone, dll, aku tinggalkan di rumah sama ibu.

To be Countinued....